Minggu, 03 Februari 2019

Ternyata Efek Obat Bervariasi Pada Setiap Orang

Efek Obat Bervariasi Pada Setiap Orang - Kata orang-orang, obat A ini ampuh, tapi kok buat saya enggak ngaruh ya?’

‘Teman saya minum obat B ini sembuh lho, Mbak. Tapi pas saya cobain, saya enggak merasa lebih baik, tuh!’

Source : Huffost

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap kali ditanyakan pasien kepada saya ketika kami sedang berbincang-bincang mengenai terapi obat. Pernahkah Anda juga bertanya-tanya ihwal mengapa suatu obat yang sama sanggup menimbulkan imbas yang berbeda pada setiap orang yang mengonsumsinya? Ternyata, variasi imbas obat ini memang lazim terjadi, lantaran kerja obat di dalam tubuh kita dipengaruhi oleh banyak sekali macam faktor. Apa sajakah faktor-faktor tersebut dan bagaimana mereka sanggup mensugesti imbas obat yang kita konsumsi? Yuk, kita simak list di bawah ini!

Ukuran Tubuh

Ukuran tubuh seseorang sanggup mensugesti seberapa banyak takaran obat yang harus diberikan pada seseorang. Biasanya penghitungan dilakukan menurut bobot badan, sanggup pula dilakukan dengan body surface area (BSA). Pada umumnya, takaran obat untuk arif balig cukup akal itu ialah ‘standardisasi’ takaran bagi arif balig cukup akal normal (tanpa gangguan organ) dengan bobot tubuh 70 kg. Jadi, kalau ukuran tubuh seseorang jauh lebih kecil, atau malah jauh lebih besar, dari ‘standar’ ini, sanggup jadi imbas obat yang ia alami akan sedikit berbeda.

Namun, untuk beberapa jenis obat, takaran obat yang diberikan harus dihitung sesuai kondisi bobot tubuh atau BSA pasien, tidak sanggup memakai takaran ‘standar’. Contoh obat yang harus diberikan sesuai dengan ukuran tubuh ini ialah obat-obat kemoterapi. Salah satu alasannya ialah lantaran obat kemoterapi mempunyai imbas samping yang cukup signifikan pada tubuh, sehingga dosisnya harus benar-benar dihitung biar tetap sanggup memperlihatkan manfaat terapi yang maksimal dengan imbas samping yang minimal.

Penghitungan takaran lewat bobot tubuh dan BSA juga lazim dipakai untuk menghitung takaran obat untuk anak-anak.

Faktor Usia

Usia berafiliasi dekat dengan kondisi organ tubuh seseorang, terutama ginjal dan hati. Makara nih, ginjal dan hati itu berperan penting dalam membuang sisa obat dari dalam tubuh. Jika kerja ginjal dan hati mulai menurun lantaran faktor usia, maka sisa obat yang dibuang dari dalam tubuh akan berkurang. Hal ini sanggup menimbulkan imbas terapi obat berlangsung lebih lama, namun berpotensi juga meningkatkan kejadian imbas samping.

Oleh alasannya ialah itu, pada pasien geriatri (usia di atas 65 tahun), dibutuhkan takaran yang lebih kecil. Dosis menurut usia juga sering dipakai pada pasien anak. Dalam kasus anak-anak, hal ini dikarenakan fungsi organ hati dan ginjal mereka yang belum seberkembang dewasa.

Toleransi Dan Resistensi

Beberapa obat, kalau dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup panjang, sanggup menimbulkan sesuatu yang disebut toleransi. Jika sudah terjadi toleransi, maka obat tidak akan memperlihatkan imbas yang semestinya, atau sanggup dikatakan ‘tidak mempan’. Contohnya nih, isosorbid dinitrat dan beberapa obat anti-depresan. Jika toleransi sudah terjadi, biasanya pasien butuh takaran yang lebih besar biar imbas terapi sanggup dirasakan.

Sedangkan resistensi biasanya terjadi pada penggunaan antibiotik. Jika suatu kuman sudah resisten terhadap antibiotik tertentu, maka obat antibiotik yang diminum tersebut tidak akan memperlihatkan imbas menyerupai yang diharapkan, alias infeksinya masih tetap ada. Cari tahu lebih lengkap ihwal resistensi antibiotik.

Makanan Yang Sedang Di Konsumsi

Yup, masakan juga sanggup mensugesti imbas obat pada tubuh yang sedang Anda konsumsi, lho! Hal ini terutama berlaku untuk obat oral alias obat yang diminum. Ada beberapa jenis obat yang harus dikonsumsi sebelum makan, lantaran masakan justru akan menghalangi terserapnya obat tersebut ke dalam tubuh. Sebaliknya, beberapa obat malah harus dimakan bersamaan dengan makan atau sehabis makan. Jadi, sebaiknya Anda perhatikan baik-baik label atau keterangan obat yang Anda dapatkan, ya!

Makanan tertentu juga sanggup menghambat terserapnya obat ke dalam tubuh. Contohnya ialah susu. Apa sajakah obat yang tidak sanggup dikonsumsi bersamaan dengan susu? Silakan Anda baca lebih lengkap disini ya!

Cara Penyimpanan Obat

Walaupun terdengar sepele, namun obat perlu disimpan dengan cara yang tepat. Kesalahan penyimpanan obat akan menciptakan kadar obat menurun. Saya pernah mendapati seorang pasien saya yang salah menyimpan obat miliknya. Seharusnya obat tersebut disimpan di dalam kulkas, namun pasien menyimpannya dalam freezer. Hal ini tampaknya merusak struktur kimia dari obat tersebut, sehingga ia tidak memperlihatkan perkembangan klinis yang baik setelah mengonsumsi obat tersebut. Mau tahu bagaimana cara menyimpan obat dengan baik? SIlakan dibaca disini ya!

Kondisi Psikologis

Kondisi psikologis Anda ternyata sanggup memengaruhi kerja obat yang Anda konsumsi, lho! Hal ini dikenal sebagai the placebo effect, dimana imbas obat ditentukan oleh bagaimana secara mentalitas seorang pasien memandang obat yang diterimanya. Biasanya hal ini berkaitan dengan pinjaman obat penahan nyeri, depresi, dan kelainan susukan cerna.

Adherence

Adherence sanggup diartikan sebagai ‘kepatuhan’ pasien dalam mengonsumsi obat sesuai dengan hukum penggunaan yang diberikan kepadanya. Adherence ini menjadi salah satu hal penting dalam keberhasilan terapi.

Saya banyak menemui kasus ketidakpatuhan ini dalam praktek sehari-hari. Alasan yang paling banyak mengemuka ialah lupa meminum obat, atau tidak lagi minum obat lantaran merasa sudah baikan. Untuk mengatasi ketidakpatuhan ini, saya biasanya membangun kepercayaan pasien terhadap terapi yang diterimanya. Harapan saya, kalau pasien sendiri sudah mempunyai suatu kebutuhan terhadap terapinya, maka secara otomatis ia niscaya akan meminum obat sesuai petunjuk.

Dukungan keluarga juga penting sekali untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan, terutama untuk obat-obat yang sifatnya kronis menyerupai diabetes, darah tinggi, atau tuberkulosis.

Wah, ternyata banyak sekali ya, faktor yang sanggup mensugesti imbas suatu obat yang dikonsumsi! Mulai dari hal yang bersifat fisik menyerupai ukuran tubuh, usia, makanan, dan penyimpanan obat, sampai faktor yang bersifat psikologis. Makara terjawab sudah ya, pertanyaan mengapa imbas obat sanggup berbeda-beda terhadap masing-masing orang! Semoga gosip ini sanggup menciptakan Anda makin bijak dalam mengonsumsi obat Anda, ya! Salam sehat!

Source: GueSehat
Sumber http://sufri-id.blogspot.com/
Comments


EmoticonEmoticon